21 Desember, 2009

confession

Saat aku masih gadis kecil
Mama pernah mengaku
Dari semua anak (yang jumlahnya tiga)
Mama paling menyayangiku

Aku tak pernah menceritakannya kepada abangku
Meskipun dia selalu menjengkelkan
Dari semua anak (yang jumlahnya tiga)
Mama paling menyayangiku

Aku tak pernah menceritakannya kepada adikku
Karena mungkin dia kecewa
Dari semua anak (yang jumlahnya tiga)
Mama paling menyayangiku

Kami bertiga sudah dewasa
Aku menceritakannya sambil bercanda
Dari semua anak (yang jumlahnya tiga)
Mama paling menyayangiku

Senyuman di wajah mereka
Menyiratkan cerita yang sudah kuduga
Mama, tentu saja, kepada kami masing-masing
Mengaku hal yang sama


SELAMAT HARI IBU, MAMA :)

08 Desember, 2009

no sorry, no thank you

ketika sahabatmu menyakitimu, entah sengaja atau tidak, apakah kamu akan memafkannya tanpa ia minta?

ketika sahabatmu menyakitimu, entah sengaja atau tidak, kemudian ia meminta maaf padamu dan berkata "maukah kau memaafkanku?", lalu jawaban apa yang akan kau berikan padanya?

ketika sahabatmu menolongmu, lalu apakah kau akan mengucapkan terimakasih padanya?

ketika sahabatmu menolongmu, dan kau mengucapkan terimakasih, kemudian jawaban apa yang kira-kira  kau harapkan dari sahabatmu itu?

ketika kau menyakiti sahabatmu, entah sengaja atau tidak, apakah ia akan memafkanmu tanpa kau minta?

ketika kau menyakiti sahabatmu, entah sengaja atau tidak, kemudian kau meminta maaf padanya dan berkata "maukah kau memaafkanku?", lalu jawaban apa yang kau harapkan darinya?

ketika kau menolong sahabatmu, lalu apakah kau akan mengharapkan seuntai ucapan terimakasih darinya?

ketika kau menolong sahabatmu, dan ia mengucapkan terimakasih, kemudian tahukah kau jawaban apa yang kira-kira diharapkan oleh sahabatmu itu?

apakah aku dan kau bisa sama-sama sejiwa menjawab :
in our friendship there is no sorry and there is no thank you.
 apakah kita mampu menjalani persahabatan tanpa memberlakukan kedua kata sakral tersebut?

*bagi yang ingin menjawab dan ber-agumen dengan pertanyaan diatas dipersilakan :)

03 Desember, 2009

telah terjadi pergeseran nilai di kehidupan sosial kucing


gue rasa, telah terjadi pergeseran nilai di kehidupan sosial kucing. kucing yang dulunya selalu mengubur kotorannya dengan tanah selepas dia buang air besar, sekarang sudah tidak lagi. YAK. TIDAK LAGI KAWAN!

entah karena memang dia sudah bosan dengan ritual seperti itu atau mungkin kucing-kucing jaman sekarang sudah malas menggali tanah atau mungkin juga pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung juga berlaku di kalangan kucing. liat aja kucing sekarang beol di sembarang tempat, dimana dia kebelet ya disitu lah dia buang kotorannya. setelah puas, ditinggalkannya begitu saja itu kotoran tanpa peduli lingkungan sekitar, tak seperti dulu dimana nilai-nilai sosial dalam perkucingan masih dijunjung tinggi. hahahaha.

Kenapa gue bilang dahulu kucing menjunjung tinggi nilai sosial?

Ehm, jadi waktu kecil, gue punya pohon belimbing wuluh di depan rumah yang lumayan lebat dan berbuah. buah dan daunnya suka gue petikin buat maen acak-acakan alias masak-masakan bersama rekan sebaya. oke, sebenernya gue bukan ingin membicarakan tentang pohon belimbing ataupun cerita masa kecil gue yang kebanyakan : CACAT *selain hamper diculik banci kekar*. gue disini ingin membahas tentang perilaku yang dilakukan oleh kucing-kucing liar di bawah pohon belimbing itu. jadi setiap harinya ada kucing-kucing liar yang hobi membuang kotorannya tepat di bawah pohon belimbing itu, tapi kotoran kucing itu tidak dibiarkan terbuka melainkan tertutup tumpukan pasir atau tanah, jadi sehabis melepas kotoran dengan ikhlas, si kucing menggali tanah di sekitar situ dan menyembunyikan kotorannya hingga tertutup rapi.

gue yang selalu melihat pemandangan itu seketika takjub dan heran, dalem hati gue bergumam *waw, gila nih kucing kenapa kotorannya pakek ditutupin segala yah? apa supaya baunya gak mengganggu hidung manusia? toleransinya tinggi sekali kalo gitu si kucing ama manusia*

tapi ternyata gue salah, kucing bertindak seperti itu karena ada penyebabnya. kalo kata si ma'ci mah, si kucing begitu karena jaman dulu leluhurnya kucing suka berantem sama leluhurnya macan. kerap kali mereka bertengkar dan kejar-kejaran, sampai pada akhirnya si kucing yang notabene kecil dan  lincah dari macan  naik ke atas pohon sedangkan si macan hanya bisa berdiri di bawah karena gak kuat buat naek ke atas pohon juga buat nangkep si kucing. macan nunggu donk tuh si kucing ampe turun tapi kok si kucin gak turun-turun.... bosen dan kesel nunggu, si macan memutuskan untuk pergi saja dan berusaha untuk menangkap si kucing esok hari, tapi sebelum macan pergi, dengan lantang penuh nafsu ke arah atas pohon si macan bilang dengan logat medan *no offense buat rasis, gue pilih medan karena yang cerita kisah ini adalah ma’ci gue yang mana kalo berbicara aksen medannya masih kental*

"awas kau cing, kalo besok gue juga gak bisa nangkep kau, tai-tai kau pun akan ku makan!!!!!!!!"

ngerasa itu adalah anceman, si kucing mikir,

buset ampe sebegitu bencinya tuh macan ama gue, ampe tai-tai gue pun mau dimakan. ohhh, ini gak boleh terjadi, enak aje lu mu makan tai gue, gue harus cari cara supaya tai gue aman. aha. mulai sekarang tiap gue beol, bakalan langsung gue umpetin tuh tai, gue kubur pakek tanah. hahaha. lihatlah macan, lu gak bakal bisa nemu tai gue! Dan gue berjanji mulai saat ini keturunan gue pun juga harus mengubur kotorannya agar tak dimakan oleh keturunan si macan (dengan suara menggema)

setelah ma'ci cerita begitu yang ada di benak gue cuma dua.
pertama;
tuh macan dodol amat mu makan tai kucing.
kedua;
si kucing juga pede bener, dikata tainya enak apa buat dimakan.
yeah namanya juga pikiran anak kecil saat itu kan yah.

Dan sekarang?? See?? Kucing-kucing jaman sekarang tidak melakukan apa yang diajarkan oleh nenek moyangnya, terbukti telah terjadi pergeseran nilai, sodara-sodara. gak tau juga apakah ada hubungannya dengan kiamat yang sudah semakin dekat *sepertinya sih tak ada korelasinya*

gue mulai gatel melihat tingkah polah kucing yang seperti ini, kenapa? Karena belakangan ini hidup gue dibayang-bayangi oleh kotoran kucing *oke, gue terlalu berlebihan, tapi ini serius* dimana ada kotoran kucing, disitu ada gue, ehm atau dengan kata lain, gue dipaksa untuk dilibatkan!

Bukan, bukan karena gue sedang pelihara kucing. kucing peliharaan bokap gue, si pussy udah mati kelindes mobil beberapa tahun silam, jadi gue gak bisa meng-kucing hitamkan dia dalam hal ini. Hohoho. Gue jadi inget waktu awal-awal miara si pussy, dia beol di depan kamar gue, dan ke-gap ama emak, langsung aja donk sama si emak, si pussy di gendong dan dijejelin kotorannya ke muka si pussy. Saat itu sebenernya gue kesian ama pussy tapi apa mau dikata, itu demi mengajarkan pussy tentang tata cara hidup bersosialisasi, kata emak supaya si pussy kapok dan kali lain kalo beol di tempat yang telah disediakan. Emak juga bilang biar si pussy tau dan sadar kalo kotorannya tuh baunya gak enak, jadi jangan beol sembarangan. Ckckckck. Dan ternyata itu berhasil, semenjak itu pussy tau diri dan kalo beol selalu di tempat yang telah disediakan.

Oke enough conversation about pussy.

Back to the main track. Selama liburan kemaren, dirumah hanya ada gue, emak, dan baba. Si abang just like always, sedang berada di bandung, dan si krogo yang baru masuk kuliah udah pindah ke kosannya. Jadilah gue idup selayaknya anak tunggal bergelimangan harta dan kasih sayang *najis* ehm maksudnya anak kesepian yang dipingit gak boleh kemana-mana dan selalu ditinggal bekerja oleh bapak ibunya setiap hari. *kenapa gue jadi curhat gini?*

Ya jadi selama gue dirumah, sore tiap baba pulang, gue lah yang bertugas membukakan pintu pagar garasi. Tapi yang gue heran, si baba gak bergerak memajukan mobil untuk terus masuk ke garasi. Dari dalam mobil baba malah manggil gue dan bilang,

“itu kotoran kucing di depan rumah pak rahman di bersihin dulu, kak! Kalo gak ntar ban mobil abba nginjek kotorannya.”

Krik krik krik. Gue pun menuju depan rumah pak rahman, melihat kotoran laknat itu, dan berucap

“demmmmmmmmmm, sial!

Gue ngambil pengki dan sapu lidi trus gue sapu bersih dan gue buang.

Baba pun dengan tersenyum lebar masukin mobil ke garasi sambil ngeliat muka gue yang mecucu nahan muntah gara-gara mabok.

Keesokan harinya, tanpa gue sangka terulang lagi, ketika gue ngebukain pager garasi, si baba senyum ke arah gue sambil bilang,

“seperti biasa kak! Depan rumah pak rahman”

Oh my god, again!

Keesokan harinya, TERJADI LAGI!
LAGI!
Dan LAGI!
SETIAP HARI!

Gue gak ngerti kenapa itu kucing hobi banget beol di depan rumah pak rahman. Dan karena kalo masukin mobil ke garasi harus maju dulu ke depan rumah pak rahman jadi ya mau gak mau gue harus melakukan RITUAL itu setiap hari. YAK! SETIAP HARI, KAWAN! Dan sepertinya si baba lebih memilih untuk menjaga keharuman ban mobilnya dan keharmonisan hidung keluarga tercintanya. Dia lebih memilih gue yang mabok sebentar nahan bau kotoran kucing saat bersihinnya, daripada itu kotoran nempel di bannya dan mengganggu kenyamanan penciuman seisi rumah *sungguh baba yang bijaksana*
Emak gue tiba-tiba muncul dari dalem dan bilang,

“itu emang setiap hari kayak gitu, kak. Kucing liar tiap hari beol disitu, dan selama kakak dirumah ya kakak harus ikhlas bersihinnya.”

Makasih loh ba, ma. Kerjaan-ku jadi bertambah dirumah, yaitu : tiap sore bersihin kotoran kucing. 

Ketika gue balik ke malang, gue pikir, gue bakal terbebas dari ritual semacam itu, tapi ternyata TIDAK. Dikosan gue kucing-kucing liar semakin banyak karena beranak pinak. Dan mereka semua berak sembarangan. I mean, dimana-mana. Gak di dapur, gak di kamar mandi, gak di depan kamar anak-anak, gak di atas keset, gak di lantai. DIMANA-MANA dah pokoknya.

Pernah suatu hari, gue baru nyampe kosan abis keluar, gue melihat penghuni kosan yang berjarak dua kamar dari kamar gue *deasy beserta temennya, si sarah* tereak jijik di depan kamarnya, dan begitu gue samperin, si deasy langsung bilang sambil nahan muntah,

“ka depe, di kesetku ada apa itu aku jijik, hoekkk”

“itu e’ek kucing des”

“aku jijik kak depe”

“yawdah sinih aku singkirin keset kamu, ni aku tutupi yah e’eknya ntar ini langsung dibuang aja, oke!”

Setiap hari adaaaa aja ulah si kucing-kucing liar yang mulai mengganggu kenyamanan penghuni kos, dan hal ini membuat gue ingin mengarungkan mereka dan membuangnya ke suatu tempat yang jauh dimana dia tak dapat kembali lagi kesini.

Kurasa nenek moyang kucing di alam sana bersedih melihat keturunannya tak lagi mengikuti jejak leluhurnya. Entah sampai kapan pergeseran nilai ini terjadi, aku pun tak tahu. Hehehehehe.

bagaimana dengan kucing-kucing di sekeliling anda??