23 Oktober, 2009

saat malam tiba

saat malam tiba, apa yang kau lihat dan pikirkan untuk esok pagi, ma? aku sangat ingin tau. karena setiap malam tiba, yang kulihat hanya gelap.

14 Oktober, 2009

3 animalniac beraksi (lagi)

hari ahad kemaren, dadakan si owel ngajak makan siang di hanamasa, sebenernya gue lagi gak punya duit, tapi berhubung si neng owel ini penasaran dan sangat kangen ingin makan di hanamasa, jadilah dia bersedia mentraktir gue, dia ampe rela dateng ke MM bok, ehm mungkin saking rindunya ama gue kali yak... hehe *peace neng owel ;)

padahal sebelumnya (waktu ramadhan), owel juga mentraktir gue dan sapi buka bersama di avenue plasa semanggi, itu juga dadakan karena gue batal nonton, makanya sorenya langsung aja gitu ketemuan di plangi *berhubung gratisan, si sapi semangat dateng, plangi-pun dijabanin dah ama dia, gak peduli apapun yang terjadi, hahaha*


at avenue plasa semanggi, gak janjian makek ungu berarti sehati *hahay*

kembali ke hanamasa, sebenernya gue gak begitu suka masakan jepang gitu, tapi karena ditraktir yah apa boleh buat lah, sewaktu owel bilang "quer, ntar makan yang banyak ya, sayang kalo cuma dikit makannya, soalnya ini all you can eat, jadi makan sepuasnya gitu". seketika gue jadi inget sapi "yah wel, coba ada sapi yah, dia sih lagi di bandung, tapi gue mau sms sapi ah, mau pamer ke dia".
begitu gue sms sapi nyuruh dia nelpon kita, eh dia malah mau nelpon ke rumah gue aja biar murah katanya, jadilah si owel menghibahkan pulsanya buat nelpon ke esia sapi. dan ternyataaaaa si sapi lagi di rumah bukan di bandung, seketika gue merasa bersalah.

langsung aja kita ajak dia untuk segera datang ke MM. gue ama owel makan duluan ampe mabok sambil nungguan si sapi betina itu dateng. satu jam menunggu udah nambah berkali kali, makan puding, buah, ampe gak sanggup lagi dah, hingga akhirnya si sapi dateng, dan seperti yang gue dan owel perkirakan, SI SAPI MAKAN BANYAK BANGET. gue ngeliatnya udah eneg dan kenyang. puas makan si owel bayar donk yah tuh makanan, dan begitu sampe dikasir gue ama sapi menganga liat nominalnya, gak wajar buat makan bertiga, belom lagi yang di pelangi (kalo gini caranya gajinya si neng owel bisa abis cuma buat gue dan sapi aja) hehe berlebihan.

kelar makan, keliling bentar nyari bukunya si puan *adek gue* terus ngerjain tugasnya si sapi di Jco karena dia butuh koneksi internet juga, lagi lagi untungnya si owel berniat beli Jco, gak mungkin kan kita cuma numpang wifi-an gratisan, hahahha. disitu kita mentranslate tugasnya sapi yang lumayan bikin gregetan dan bersensasi.

thanks yah owelku sayang, doain aku dan sapi cepet bisa gantian traktir kamu yah. aminnnnn. dan kita bisa sekalian tripple date nanti. hihihihihi. love you, 3 ANIMALNIAC, cup cup muachhhhhhhh :*


10 Oktober, 2009

jangan jadi gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? ” sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, ” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.

Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru. “Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.

Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah. Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau. (by Muhammad Yasrif)
 

 

07 Oktober, 2009

sekawan muda in action


tiga lelaki busukku


cacak, bombsay, pogsay



kado buat pogie sayang




 
3 lelaki tampanku

cafe chocholate



tanpa bicara, tanpa mencium, dan tanpa melihat



<3 <3 <3



berempat



 berpelukan dari matos menuju kalimaya



di kampus cacak


06 Oktober, 2009

untuk adikku dian fath

29 September 2009.


teruntuk adikku dian fath,

untuk kedua kalinya kamu kehilangan kakek, pertama kakek kita tersayang, kakek Ibrahim Prentha, kedua kakek haji Harun AlRasyid, dan untuk kedua kalinya kamu gak bisa mengantar mereka sampai ke tempat peristirahatannya.

apa yang ada di dalam benakmu ketika pertama kali mendengar berita duka itu pagi tadi?

apalagi saat kita tau, yang telah tiada adalah orang yang kita kenal, atau bahkan orang yang sangat dekat dengan kita, orang yang tangannya selalu kita cium, orang yang keningnya selalu kita kecup.

kehilangan? tentu saja.

menangis? mungkin saja. tadi pagi pun kuyakin kamu menangis.

setiap mendengar berita kematian, aku suka membayangkan, bagaimana aku nanti jika kedua orang tuaku tiada. sejuta pikiran takut dan lain sebagainya terbayang-bayang di dalam kepalaku.

sempat terbesit, bagaimana kalau aku saja yang pergi duluan, karena mungkin aku tak akan sanggup melihat kedua orang tua ku terbaring kaku meninggalkanku lebih dulu.

aku ingat, nenek haji selalu mengingatkan kita bertiga untuk selalu ingat dengan kematian, yang kemudian dibantah oleh kakek haji supaya jangan selalu menakut-nakuti cucu-cucu kecilnya dengan tausyiah tentang kematian.

kini, kakek haji telah meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya, kakek haji yang empat tahun yang lalu masih berdiri gagah mendoakan saat kita berangkat sekolah, kakek haji yang wajahnya tak pernah kering akan air wudhu, kakek haji yang suka melantunkan ayat suci untuk cucu-cucunya.

sekarang, saatnya kamu yang melantunkan ayat suci untuk kakek, dhey.

dian fath, aku pernah membaca satu kisah,
kisah di jaman rasul.

(suatu malam, seorang sufi melewati makam, disitu dia melihat ada satu orang lelaki tua yang sedang memunguti sesuatu di sekeliling makamnya, sedangkan yang lain hanya duduk termenung di atas makam masing-masing karena tak ada yang bisa dipungut.

malam berikutnya, seorang sufi itu berjalan memperhatikan makam yang sama, lagi-lagi sang lelaki penghuni kubur kembali memunguti sesuatu sambil tersenyum, yang lain? lagi-lagi hanya duduk termenung.

begitu seterusnya setiap malam.

karena rasa penasaran, seorang sufi itupun melakukan dialog dan bertanya pada lelaki penghuni kubur yang tiap malam memunguti sesuatu di sekeliling makamnya.

"assalamualaik ya ahli kubur, apa yang selalu kau pungut setiap malam disekeliling makam mu itu?"

"aku memungut bacaan qur'an yang setiap hari di lantunkan oleh anakku yang sedang berjualan di pasar, setiap saat anakku melantunkan ayat suci khusus untukku, itulah yang kupungut setiap malam".

seorang sufi itupun penasaran, siang harinya ia pergi ke pasar dan memperhatikan anak yang dimaksud itu, memang benar, setiap hari saat sedang berjualan, anak itu tak pernah berhenti membaca quran kecil yang ada ditangannya. berhenti membaca hanya ketika saat ada pembeli dan saat waktu shalat tiba. sedangkan penjual lain mengisi waktu kosongnya dengan berbincang.

malam berikutnya, seorang sufi kembali mendatangi makam, namun ia terkejut, sang lelaki penghuni kubur itu sekarang hanya duduk termenung di atas makamnya tak memungut apapun sambil berwajah murung.

sufi pun menghampiri dan bertanya,
"ya ahli kubur, mengapa sekarang kau terlihat sama dengan penghuni makam lainnya? tak ada satupun yang kau pungut seperti malam-malam sebelumnya. apa yang terjadi?"

sang lelaki ahli kubur pun berkata,
"anak shaleh ku yang biasa melantunkan ayat suci dan mendoakanku telah tiada, kini tak ada lagi yang bisa kupungut, sekarang aku sama dengan penghuni kubur lainnya"

keesokan harinya, sufi pun membuktikan dengan pergi ke pasar tempat anak itu berjualan, dan benar adanya ketika sufi bertanya pada penjual di sekeliling, di jawab bahwa anak itu telah meninggal dunia beberapa waktu yang lalu.)

dian fath, apakah kakek ibrahim selama ini setiap malam seperti itu? memiliki sesuatu yang dipungut atau hanya duduk termenung?

dan apakah nanti kakek haji juga memiliki sesuatu yang dipungut atau juga hanya duduk termenung?

hanya diri kita yang bisa menjawabnya.

jangan biarkan mereka hanya duduk termenung setiap malam menunggu 'kiriman' doa dari kita yang bisa mereka pungut.

P.S. berjuta-juta tak terhingga rasa sayangku untuk kakek ibrahim.